Showing posts with label pesanan untuk orang islam. Show all posts
Showing posts with label pesanan untuk orang islam. Show all posts
Muhasabah Diri: Nasihat Penutup Tahun untuk Persediaan Di Tahun Baru
NASIHAT PENUTUP TAHUN
Penulis: Dr Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Berkata sebahagian ahli hikmah,
“Bagaimana mampu bergembira seseorang yang harinya membinasakan bulannya dan bulannya membinasakan tahunnya dan tahunnya membinasakan umurnya. Bagaimana mampu bergembira seseorang yang umurnya menggiringnya kepada ajalnya dan kehidupannya menggiringnya kepada kematiannya.”
Segala puji bagi Allah yang telah menetapkan sifat fana bagi dunia ini dan mengkhabarkan bahawa akhirat adalah negeri abadi, dengan kematian dia membinasakan usia yang panjang. Saya memuji-Nya atas segenap nikmat-Nya yang tercurah dan saya bersaksi bahawa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah semata, Dzat Yang Menundukkan segala sesuatu. Dan saya bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Dia telah memperingatkan dari condong kepada negeri ini, shalawat serta salam semoga tercurah kepada beliau dan keluarganya beserta para shahabatnya yang taat dan suci sepanjang siang dan malam.
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan fikirkanlah dunia kalian dan betapa cepat dia berlalu. Bersiap-siaplah menyambut akhirat dan kengeriannya. Setiap bulan yang menghampiri seseorang semakin menyeret dia mendekati ajal dan akhiratnya.
Sebaik-baik kalian adalah yang panjang umurnya lagi baik amalannya, dan seburuk-buruk kalian adalah yang panjang umurnya lagi buruk amalannya. Tidak ada selain apakah seseorang diberi pahala atas ketaatan dan kebaikannya atau diberi dengan dosa atas keburukan dan kemaksiatannya, kecuali apabila dikatakan fulan telah wafat.
Alangkah dekatnya kehidupan dengan kematian. Dan segala yang akan datang pasti datang. Dan kalian sekarang akan meninggalkan tahun yang telah usai dan usia kalian pun semakin berkurang dan akan menyambut tahun yang kalian tidak tahu apakah kalian akan menyelesaikannya ataukah tidak?!
Maka hisablah diri-diri kalian apa yang telah kita perbuat pada tahun yang lalu? Apabila kebaikan, bersyukurlah kepada Allah dan sambunglah kebaikan itu dengan kebaikan.
Sedangkan apabila buruk, bertaubatlah kepada Allah darinya dan isi sisa-sisa usia kita (dengan kebaikan) sebelum luput darinya.
Berkata Maimun bin Mihran, “Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi orang yang bertaubat atau seseorang yang beramal shalih mencari derajat yang tinggi.” Yakni orang yang bertaubat, kesalahan-kesalahannya gugur disebabkan taubatnya dan orang yang beramal shalih bersungguh-sungguh dalam menggapai derajat yang tinggi dan selain mereka merugi. Sebagaimana
firman Allah Ta’ala,
“Demi masa,sesungguhnya manusia benar-benar berada di dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling nasihat menasihati di dalam kebenaran dan saling nasihat menasihati di dalam kesabaran.”
Pada ayat ini Allah bersumpah dengan waktu yang merupakan zaman dimana manusia tinggal, bahawa setiap manusia berada di dalam
kerugian. Kecuali mereka yang memiliki 4 sifat yang disebutkan;iman, amal shalih, saling nasihat-menasihati di dalam kebenaran dan saling nasihat menasihati di dalam kesabaran di atas kebenaran. Surat yang agung ini merupakan tolok ukur amal perbuatan, dengannya seorang mukmin menimbang dirinya sehingga jelaslah baginya apakah dia termasuk golongan yang beruntung atau merugi. Oleh kerana itu Al Imam Asy-Syafi’i berkata, “Seandainya setiap orang mentadabburi surat ini pastilah cukup baginya.”
Dan sebahagian ulama berkata, “Dahulu orang-orang yang shiddiq merasa malu kepada Allah apabila di hari itu (kualiti) amalannya
seperti hari semalam.”
Hal ini menunjukkan bahawa mereka tidak rela hari berganti kecuali amalan kebajikannya bertambah. Dan mereka malu apabila tidak ada kebajikan yang bertambah dan mereka menganggap hal itu sebagai kerugian.
Maka dengan bertambah usia seorang mukmin bertambah pula kebaikannya. Barangsiapa keadaannya seperti ini kehidupan lebih baik darinya daripada kematian. Dan pada doa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
“Ya Allah jadikanlah kehidupan sebagai penambah kebaikan bagiku dan (jadikanlah) kematian sebagai penghenti keburukan
dariku”. HR Muslim.
Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Rhadiyallahu 'Anhu, bahawa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
“Tidaklah seseorang wafat kecuali dia menyesal, apabila dia orang yang baik dia menyesal kenapa tidak lebih baik dan apabila dia orang jahat dia menyesal kenapa dia tidak bertaubat.” Dan ditampakkan orang-orang yang telah wafat di dalam tidur, ia berkata, “Tidak ada pada kami yang lebih banyak daripada penyesalan dan tidak ada pada kalian yang lebih banyak daripada kelalaian.” Dan sebahagian mereka melihat di dalam tidurnya, ia berkata, “Kami menyesal atas suatu yang besar, kami mengetahui tapi kami tidak berbuat sedangkan kalian berbuat tapi tidak mengetahui. Sungguh demi Allah sekali tasbih atau dua kali atau satu rakaat atau dua rakaat yang terdapat di lembaran (amalan kami) lebih kami cintai daripada dunia dan seisinya.”
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya setiap amalan tergantung penutupannya.Barangsiapa berbuat baik pada sisa umurnya akan diampuni kesalahannya yang telah lalu, dan barangsiapa berbuat buruk pada sisa umurnya akan dihukum atas kesalahan yang telah lalu dan kesalahan di sisa umurnya. Orang-orang yang telah wafat menyesal atas apa yang telah luput dari berbagai kesenangan
dunia yang fana. Apa yang telah berlalu dari dunia walaupun pada masa yang lampau sungguh telah hilang kelezatannya dan tinggal sisa-sisanya dan apabila kematian telah datang seolah-olah itu semua tidak ada. Allah Ta’ala berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, nescaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya. (QS. Asy-Syuara’:205-207)
Dan pada Shahih Muslim dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Allah mengangkat uzur dari hambanya yang Dia panjangkan umurnya sampai enam puluh tahun.” Dan di dalam Sunan At-Tirmidzi, “Usia ummatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit dari mereka yang melewati itu.”
Wahai yang bergembira dengan bertambahnya usia, sesungguhnya engkau bergembira atas berkurangnya usiamu. Berkata sebahagian ahli hikmah, “Bagaimana mampu bergembira seseorang yang harinya membinasakan bulannya dan bulannya membinasakan tahunnya dan tahunnya membinasakan umurnya.
Bagaimana mampu bergembira seseorang yang umurnya menggiringnya kepada ajalnya dan kehidupannya menggiringnya kepada kematiannya.”
Akan didatangkan di hari kiamat seseorang yang paling panjang umurnya di dunia dari golongan kelas atas yang menelantarkan
ketaatan kepada Allah dan melakukan kemaksiatan- kemaksiatan, kemudian dicelup di neraka sekali celup, kemudian dikatakan padanya, “Apa engkau pernah merasakan kesenangan di dunia sekali saja? Apa pernah engkau melalui kegembiraan di dunia sebentar saja? Maka ia berkata, “Sungguh tidak pernah wahai Rabb! Lupa segala macam kenikmatan dunia pada awal dirasakan padanya azab. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang diberikan pada mereka kesempatan hidup kemudian mereka telantarkan dalam kelalaian dan kesenangan. Dan diberikan pada mereka harta kemudian mereka hambur-hamburkan di jalan syahwat-syahwat yang haram. Ketika mereka merasakan balasan mereka yang pertama, mereka lupa setiap apa yang pernah mereka miliki di dunia dari waktu dan harta dan semua apa yang pernah mereka rasakan dari kelazatan dan syahwat. Merekalah orang-orang yang
memusatkan akal-akalnya dan aktivitinya serta perhatiannya untuk dunia mereka dan mengikuti syahwat perut dan kemaluan mereka dan meninggalkan kewajiban terhadap Rabb mereka dan melupakan akhirat mereka. Hingga datang kepada mereka kematian sehingga mereka keluar dari dunia dalam keadaan tercela, merugi dari kebaikan-kebaikan, sehingga bersatulah pada mereka sakratulmaut dan ruginya kematian. Maka mereka pun menyesal di saat penyesalan tidak lagi bermanfaat, “dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan,
"Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." Maka, pada hari itu tiada seorangpun
menyiksa seperti siksa-Nya, (QS.Al Fajr: 25)
Maka fikirkanlah wahai manusia sekalian! Dengan habisnya tahun habis pula umur seseorang dan fikirkanlah, dengan berpindahnya tahun perpindahan ke negeri akhirat.
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.(Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu.Dan barangsiapa yang mengerjakan amal yang soleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk syurga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab. (QS. Ghafir: 39-40)
Sumber :
Sahab.net
http://www.ahlussunnah/-jakarta.com/artikel_detil.php?id=411
Akankah Amalku Di Terima ?
Penulis: Ustadz Abdurrahman Lombok
Beramal soleh memang penting kerana merupakan kesan dari keimanan seseorang. Namun yang tidak kurang pentingnya adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justeru membuat Allah murka kerana tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.
Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam lubang kegagalan di dunia dan akhirat.
Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya memerlukan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata'ala. Akankah kita dapat menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?
Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata'ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata'ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:
Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam lubang kegagalan di dunia dan akhirat.
Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya memerlukan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata'ala. Akankah kita dapat menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?
Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata'ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata'ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan orang-orang yang saling menasihati dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)
Sumpah Allah Subhanahuwata'ala dengan masa menunjukkan bahawa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang mampu memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal soleh. Dan dengan waktu pula seseorang juga mampu terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata'ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata'ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.
Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.
Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan
Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika mengatakan dirinya beriman, maka seseorang memiliki kesan dari ucapan yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.
Kesan daripada iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas redha Allah termasuk hasil daripada iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.
Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan hasil daripada iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah صلی الله عليه وسلم tentang perkara-perkara ghaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan keberkesanan iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah صلی الله عليه وسلم juga merupakan kesan daripada iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan kesan daripada iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cubaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan kesan dari iman itu sendiri.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
“Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahawa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al Ankabut: 1-3)
Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahawa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Kerana kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), nescaya tidak dapat dibezakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan dapat dibezakan antara yang benar dan yang salah.”
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
“Orang yang paling keras cubaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)
Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki kesan dan hasil yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.
Amal
Amal merupakan kesan daripada iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tentangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata'ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:
“Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada syurga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133)
Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju syurga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata'ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang akan menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada syurga.”
Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata'ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan syurga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169
Allah berfirman:
“Berlumba-lumbalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148)
Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlumba-lumba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, kerana berlumba-lumba mencakupi mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlumba-lumba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”
Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
“Bersegeralah kalian menuju amal soleh kerana akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di petang harinya menjadi kafir dan jika di petang hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelong agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)
Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal soleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir zaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170
Kerana kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita perlukan dengan amal soleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah:153)
Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh kesulitan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima?
Syarat Diterima Amal
Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata'ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah صلی الله عليه وسلم di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut:
Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari redha Allah Subhanahuwata'ala.
Allah Subhanahuwata'ala berfirman;
Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)
Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahawa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata'ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala.
Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah صلی الله عليه وسلم . Beliau bersabda:
“Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)
Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahawa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah صلی الله عليه وسلم . Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah صلی الله عليه وسلم .Jika istilah “yang penting niat” itu benar nescaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata'ala dengan dalil yang penting niatnya.
Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah ) dan bahkan kesyirikan tidak akan kita salahkan, kerana kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.
Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata'ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawapannya adalah tidak.
Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh kerana itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.
Masalah berikutnya, juga bukan sekadar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata'ala berfirman:
“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2)
Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata'ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396
Allah Subhanahuwata'ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah صلی الله عليه وسلم , sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.
Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah - Muhammadarrasulullah.
Wallahu a’lam.
Six Attacks By Shaytaan – Ten Defenses, By Ibn Al-Qayyim
The evil of Shaytaan is limited to six categories, he continues [to assault] mankind until he succeeds in one or more of them:
1) The evil of polytheism and disbelief;
2) Then innovations;
3) Next are the major sins;
4) Then the minor sins;
5) Subsequently, busying people with practicing Mubahaat [1] instead of practicing good deeds [that one is rewarded for];
6) Next is busying them with practicing deeds which are good instead of deeds which are better.
The reasons that safeguard a servant from the Shaytaan are ten:
1) Seeking refuge with Allaah from him;
2) Reading al Mu’awathatain [Surat an Nas and Surat al Falaq];
3) Reading Ayatul Kursi;
4) Reading Surat al Baqarah;
5) Reading the ending of Surat al Baqarah [last two verses];
6) The believer reading from the beginning of {Haa Meem.} until {to Him is the final return.} [Ghafir: 1-3];
7) Saying what translated means: ‘There is no deity worthy of worship but Allaah, alone having no partners, to him belongs the dominion, to him belongs all praise, and He has the ability to do all things.’ One hundred times;
8) Practicing the remembrance of Allaah a lot;
9) Performing ablution along with prayers;
10) Refraining from supernumerary (extra) looking around, talking, eating and mixing with people.
FOOTNOTES:
[1] Actions that one is neither ordered to or prohibited from performing specifically, such as eating or sleeping.
[Compiled by as Sa'dee from Ibnul Qayim's book: Badaa-'i al fawaa-id. Tareeq al Wusool ila al 'Ilm al Mawool: p.129]
QUESTIONS: Actions that one is neither ordered to or prohibited from performing specifically, such as eating or sleeping.~ what does this mean? specifically?
ANSWER:
“[1] Actions that one is neither ordered to or prohibited from performing specifically, such as eating or sleeping.”
is an explanation of the word mubuhaat. Mubuhaat is plural for mubah (permissible). The deeds of man fall into five categories:
1) COMPULSORY (good deed if done – sin if left out)
2) RECOMMENDED (good deed if done – no sin if left out)
3) OPTIONAL (mubah) (no good deed if done – no sin if left out)
4) DISLIKED (good deed if left out – no sin if done)
5) FORBIDDEN (good deed if left out – sin if done)
ALL deeds one does throughout the day fall into one of these five categories.
So the fifth attack of shaytaan reads: “Subsequently, busying people with practicing Mubahaat [1] instead of practicing good deeds [that one is rewarded for]” which means that one does an optional deed (which is neither rewarded or punished for) in his free time when he could have been doing a recommended deed.
Some examples of this could be:
a) Listening to the radio, when one can listen to an Islamic lecture instead,
b) Looking out the window in a long car journey, when one can read a book instead (if you’re a passenger of course)
And the examples can be many.
As for the word “specifically” in the above statement, then he (ra) is referring to deeds which have not been specifically mentioned as rewardable or punishable, hence why these acts fall under the mubah category. One does not get rewards or sins for sleeping, one does not get rewards or sins for eating, likewise there are many acts which one does for which he or she does not get any rewards or sins for. And it is these acts which Shaytaan makes one preoccupy his time in when he could be doing rewardable deeds.
As we know, on the day of Judgement the people will be split into three categories:
a) Those of the left hand (as-haabush shimaal)
b) Those of the right hand (as-haabul yameen)
c) The forerunners, who are brought close to Allaah (Saabiqoon / Muqarraboon)
And the proof for this is numerous in the Book of Allaah. After mentioning the terrors of the day of Judgement in surah waaq’iah (56) Allaah says; “…you will become of three kinds (i.e. separate groups): So the Companions of the Right Hand, Who will be those on the Right Hand? And the Companions of the Left Hand, Who will be those on the Left Hand? And the Forerunners, the Forerunners – they are the ones nearest to Allah. In the Gardens of delight (Paradise)…”
And like we know Jannah and jahannam have many levels to it. Allaah says; “For all there will be degrees [or ranks] according to what they did.” [6:132] and we know that “…the hypocrites will be in the lowest depths [grade] of the fire…” [4:145]
So the more ones good deeds are, the higher one’s level is, in Jannah. Hence preoccupying oneself in beneficial deeds in ones free time increases one status in the sight of Allaah and increases ones level in Jannah. As the prophet (saw) mentioned; “…Pay attention to that which benefits you…” [Saheeh Muslim]
Also Allaah says; “…so strive as in a race in good deeds…” [5:48]
Likewise; in the hadeeth qudsee where the prophet (saw) mentioned that Allaah says; “My slave continues to draw near to Me by performing optional deeds such that I love him…” [Bukhaari]
So it is in preoccupying oneself in good deeds when one is free which attains Allaah’s pleasure and the opposite of this is what is hoped of by Shaytaan and what Ibn Al-Qayyim was referring to when he mentioned; “Subsequently, busying people with practicing Mubahaat [1] instead of practicing good deeds [that one is rewarded for]”
1) The evil of polytheism and disbelief;
2) Then innovations;
3) Next are the major sins;
4) Then the minor sins;
5) Subsequently, busying people with practicing Mubahaat [1] instead of practicing good deeds [that one is rewarded for];
6) Next is busying them with practicing deeds which are good instead of deeds which are better.
The reasons that safeguard a servant from the Shaytaan are ten:
1) Seeking refuge with Allaah from him;
2) Reading al Mu’awathatain [Surat an Nas and Surat al Falaq];
3) Reading Ayatul Kursi;
4) Reading Surat al Baqarah;
5) Reading the ending of Surat al Baqarah [last two verses];
6) The believer reading from the beginning of {Haa Meem.} until {to Him is the final return.} [Ghafir: 1-3];
7) Saying what translated means: ‘There is no deity worthy of worship but Allaah, alone having no partners, to him belongs the dominion, to him belongs all praise, and He has the ability to do all things.’ One hundred times;
8) Practicing the remembrance of Allaah a lot;
9) Performing ablution along with prayers;
10) Refraining from supernumerary (extra) looking around, talking, eating and mixing with people.
FOOTNOTES:
[1] Actions that one is neither ordered to or prohibited from performing specifically, such as eating or sleeping.
[Compiled by as Sa'dee from Ibnul Qayim's book: Badaa-'i al fawaa-id. Tareeq al Wusool ila al 'Ilm al Mawool: p.129]
QUESTIONS: Actions that one is neither ordered to or prohibited from performing specifically, such as eating or sleeping.~ what does this mean? specifically?
ANSWER:
“[1] Actions that one is neither ordered to or prohibited from performing specifically, such as eating or sleeping.”
is an explanation of the word mubuhaat. Mubuhaat is plural for mubah (permissible). The deeds of man fall into five categories:
1) COMPULSORY (good deed if done – sin if left out)
2) RECOMMENDED (good deed if done – no sin if left out)
3) OPTIONAL (mubah) (no good deed if done – no sin if left out)
4) DISLIKED (good deed if left out – no sin if done)
5) FORBIDDEN (good deed if left out – sin if done)
ALL deeds one does throughout the day fall into one of these five categories.
So the fifth attack of shaytaan reads: “Subsequently, busying people with practicing Mubahaat [1] instead of practicing good deeds [that one is rewarded for]” which means that one does an optional deed (which is neither rewarded or punished for) in his free time when he could have been doing a recommended deed.
Some examples of this could be:
a) Listening to the radio, when one can listen to an Islamic lecture instead,
b) Looking out the window in a long car journey, when one can read a book instead (if you’re a passenger of course)
And the examples can be many.
As for the word “specifically” in the above statement, then he (ra) is referring to deeds which have not been specifically mentioned as rewardable or punishable, hence why these acts fall under the mubah category. One does not get rewards or sins for sleeping, one does not get rewards or sins for eating, likewise there are many acts which one does for which he or she does not get any rewards or sins for. And it is these acts which Shaytaan makes one preoccupy his time in when he could be doing rewardable deeds.
As we know, on the day of Judgement the people will be split into three categories:
a) Those of the left hand (as-haabush shimaal)
b) Those of the right hand (as-haabul yameen)
c) The forerunners, who are brought close to Allaah (Saabiqoon / Muqarraboon)
And the proof for this is numerous in the Book of Allaah. After mentioning the terrors of the day of Judgement in surah waaq’iah (56) Allaah says; “…you will become of three kinds (i.e. separate groups): So the Companions of the Right Hand, Who will be those on the Right Hand? And the Companions of the Left Hand, Who will be those on the Left Hand? And the Forerunners, the Forerunners – they are the ones nearest to Allah. In the Gardens of delight (Paradise)…”
And like we know Jannah and jahannam have many levels to it. Allaah says; “For all there will be degrees [or ranks] according to what they did.” [6:132] and we know that “…the hypocrites will be in the lowest depths [grade] of the fire…” [4:145]
So the more ones good deeds are, the higher one’s level is, in Jannah. Hence preoccupying oneself in beneficial deeds in ones free time increases one status in the sight of Allaah and increases ones level in Jannah. As the prophet (saw) mentioned; “…Pay attention to that which benefits you…” [Saheeh Muslim]
Also Allaah says; “…so strive as in a race in good deeds…” [5:48]
Likewise; in the hadeeth qudsee where the prophet (saw) mentioned that Allaah says; “My slave continues to draw near to Me by performing optional deeds such that I love him…” [Bukhaari]
So it is in preoccupying oneself in good deeds when one is free which attains Allaah’s pleasure and the opposite of this is what is hoped of by Shaytaan and what Ibn Al-Qayyim was referring to when he mentioned; “Subsequently, busying people with practicing Mubahaat [1] instead of practicing good deeds [that one is rewarded for]”
Mutiara Ilmu Islam : Imam Sufyan Bin ‘Uyainah Rahimahullah(Kunikahi dia kerana Agamanya)
Orang alim ini dilahirkan pada tahun 107 H pada pertengahan bulan Syawwal, dan ajal menjemputnya pada hari Sabtu, 1 Rajab 198 H. Nasab lengkapnya, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran al Kufi. Dia dikenal dengan panggilan Abu Muhammad.
Ayahnya seorang pegawai pada masa Khalid bin Abdillah Al Qasri. Tatkala Khalid diberhentikan dari jabatan Gabenor Iraq dan digantikan oleh Yusuf bin Umar ats Tsaqafi, pejabat baru ini mencari-cari para staff pada masa pemerintahan Khalid, sehingga mereka berlarian untuk menyembunyikan diri. ‘Uyainah, Ayah dan Sufyan kecil, melarikan diri sampai ke kota Mekkah dan akhirnya memutuskan untuk tinggal disana.
Ketika ia mencapai usia lima belas tahun, ayahnya memanggil, seraya berpesan : “Wahai Sufyan! Masa kanak-kanak sudah lepas darimu, maka kejarlah kebaikan, supaya engkau termasuk orang-orang yang mengejarnya. Jangan tertipu dengan pujian orang-orang yang menyanjungmu dengan pujian yang Allah mengetahui, bahawa keadaanmu berlawanan dengan itu. Sebab, tidak ada orang yang berkata baik kepada orang lain tatkala ia sedang senang, kecuali ia akan berkata keburukan kepadanya serupa ketika ia sedang dilanda amarah. Nikmati besendirian daripada bergaul dengan kawan-kawan yang buruk. Jangan engkau alihkan prasangka baikku kepadamu kepada prasangka lain. Dan tidak akan ada orang yang berbahagia bersama dengan ulama, kecuali orang-orang yang mentaati mereka”.
Mendengar nasihat ayahnya ini Sufyan berkata dalam hati : ”Sejak itu, aku menjadikan pesan Ayah sebagai arah kompasku, berjalan bersamanya, tidak menyimpang darinya”.
Begitulah yang ia jalani. Sejak usia dini, ulama besar ini telah menyibukkan diri pada pendalaman ilmu din(agama). Tepatnya pada tahun 119 H.
Ibnu ’Uyainah mengisahkan tentang dirinya : ”Aku keluar menuju masjid, dan aku melihat-lihat halaqah-halaqah (majlis ilmu) yang ada. Bila aku lihat ada kumpulan ulama dan orang-orang tua, maka aku menghampirinya”.
Dia menceritakan: ”Aku duduk di majlis ilmu Ibnu Syihab dalam usia enam belas tahun tiga bulan”.
Salah satu yang menunjukkan keberuntungannya, sebanyak lapan puluh ulama besar dari kalangan tabi’in sempat ia jumpai. Misalnya, ’Amr bin Dinas, az Zuhri, Muhammad bin al Munkadir, al A’masy, Sulaiman at Taimi, Humaid ath Thawil.
Tentang kekuatan hafalannya, ia berkata, ”Aku tidak pernah menulis sesuatu, kecuali sudah aku hafal sebelum aku menuliskannya.”
Berkat pergaulannya dengan ulama-ulama besar, telah membentuk dirinya menjadi peribadi yang teguh, luas ilmunya dan mendalam. Ia menjadi nara sumber dalam berbagai permasalahan dan tempat curahan isi hati.
Yahya bin Yahya an Naisaburi menceritakan: ”Suatu hari, ada seorang lelaki mendatangi Sufyan dengan berkata : ’Wahai , Abu Muhammad (yang dimaksud adalah Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan isteriku. Aku menjadi lelaki yang paling hina dan rendah dimatanya”.
Maka Sufyan menggeleng-gelengkan kepala hairan, dan kemudian berujar : ”Mungkin, keadaan itu muncul karena engkau menikahinya untuk meraih kehormatan?”
Lelaki itu pun mengakuinya: ”Ya, betul wahai Abu Muhammad”.
Sufyan lalu berpesan: ”Barang siapa pergi kerana mencari kehormatan, nescaya akan diuji dengan kehinaan. Barangsiapa mengerjakan sesuatu lantaran dorongan harta, nescaya akan diuji dengan kefakiran. Barang siapa bergerak kerana dorongan din(agama), nescaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama dinnya(agamanya)”.
Berikutnya, Sufyan mulai berkisah :
”Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah abang sulung., Imran anak bongsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, dia menginginkan kemuliaan nasab(keturunan). Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi status sosialnya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan.
Sedangkan Imran, (saat menikah) ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya dari dirinya. Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan. Keluarga wanita mengambil seluruh yang dimilikinya, tidak menyisakan sedikitpun.
Aku pun merenungkan nasib keduanya. Sampai akhirnya Ma’mar bin Rasyid datang menghampiriku. Aku pun berbincang dengannya. Aku ceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku. Ia mengingatkanku dengan hadits Yahya bin Ja’daj dan hadits ’Aisyah.
Hadits Yahya bin Ja’dah yang dimaksud, yaitu sabda Nabi Shollallahu ’alayhi wa sallam:
”Wanita dinikahi kerana empat perkara: kerana hartanya, status sosialnya(keturunan), kecantikannya dan dinnya(agamanya). Carilah wanita yang beragama, nescaya tanganmu akan beruntung”.
Sedangkan hadits ’Aisyah, Nabi Shollallahu ’alayhi wa Sallam bersabda :
Wanita yang paling besar berkahnya adalah wanita yang paling ringan beban pembiayaannya”
Maka, aku memutuskan untuk memilih bagi diriku (wanita yang) memiliki din(agama) dan beban yang ringan untuk mengikuti Sunnah Rasulullah Shollallahu ’alayhi wa sallam. Allah menghimpunkan bagiku kehormatan dan limpahan harta dengan sebab agamanya”.
Itulah salah satu hikmah yang muncul dari lisannya. Tidak sedikit untaian hikmah dari Sufyan yang mencerminkan kedekatannya dengan Al Khaliq, Allah Subhaanahu wa Ta’Ala.
Sufyan bin ’Uyainah pernah ditanya tentang hakikat wara’, Dia pun menjelaskan, wara’ adalah keinginan untuk mendalami ilmu din(agama) yang menjadi sarana untuk mengenal seluk-beluk wara’. Sebahagian orang menganggap sikap wara’ tercermin pada sikap diam dalam waktu yang lama dan sedikit bicara, padahal tidak demikian. Menurut kami, sesungguhnya orang yang berbicara lagi alim, itu lebih afdhal dan lebih wara’ dibandingkan lelaki yang jahil lagi diam.
Sufyan bin ’Uyainah juga memiliki hikmah yang menunjukkan kedalaman ilmunya. Dia menyatakan, permisalan ilmu adalah bagaikan negeri kufur atas negeri Islam. Apabila penganut Islam meninggalkan jihad, nescaya orang-orang kafir akan datang dan mengambil Islam. Jika orang-orang meninggalkan ilmu, maka mereka menjadi manusia-manusia bodoh.
Tentang pentingnya menyampaikan ilmu yang sudah diketahui, dia berkata : ”Tidaklah disebut (sebagai) alim orang yang mengetahui kebenaran dan keburukan. Tetapi, orang alim sejati ialah orang yang mengetahui kebaikan dan mengikutinya, serta mengetahui keburukan dan menjauhinya”.
Semoga Allah menganugerahinya dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di syurga-Nya yang tertinggi.
Sumber daripada : http://sahabatmu-semuanya.abatasa.com/post/detail/5216/sufyan-bin-%E2%80%98uyainah-rahimahullahkunikahi-dia-karena-agamanya
Ayahnya seorang pegawai pada masa Khalid bin Abdillah Al Qasri. Tatkala Khalid diberhentikan dari jabatan Gabenor Iraq dan digantikan oleh Yusuf bin Umar ats Tsaqafi, pejabat baru ini mencari-cari para staff pada masa pemerintahan Khalid, sehingga mereka berlarian untuk menyembunyikan diri. ‘Uyainah, Ayah dan Sufyan kecil, melarikan diri sampai ke kota Mekkah dan akhirnya memutuskan untuk tinggal disana.
Ketika ia mencapai usia lima belas tahun, ayahnya memanggil, seraya berpesan : “Wahai Sufyan! Masa kanak-kanak sudah lepas darimu, maka kejarlah kebaikan, supaya engkau termasuk orang-orang yang mengejarnya. Jangan tertipu dengan pujian orang-orang yang menyanjungmu dengan pujian yang Allah mengetahui, bahawa keadaanmu berlawanan dengan itu. Sebab, tidak ada orang yang berkata baik kepada orang lain tatkala ia sedang senang, kecuali ia akan berkata keburukan kepadanya serupa ketika ia sedang dilanda amarah. Nikmati besendirian daripada bergaul dengan kawan-kawan yang buruk. Jangan engkau alihkan prasangka baikku kepadamu kepada prasangka lain. Dan tidak akan ada orang yang berbahagia bersama dengan ulama, kecuali orang-orang yang mentaati mereka”.
Mendengar nasihat ayahnya ini Sufyan berkata dalam hati : ”Sejak itu, aku menjadikan pesan Ayah sebagai arah kompasku, berjalan bersamanya, tidak menyimpang darinya”.
Begitulah yang ia jalani. Sejak usia dini, ulama besar ini telah menyibukkan diri pada pendalaman ilmu din(agama). Tepatnya pada tahun 119 H.
Ibnu ’Uyainah mengisahkan tentang dirinya : ”Aku keluar menuju masjid, dan aku melihat-lihat halaqah-halaqah (majlis ilmu) yang ada. Bila aku lihat ada kumpulan ulama dan orang-orang tua, maka aku menghampirinya”.
Dia menceritakan: ”Aku duduk di majlis ilmu Ibnu Syihab dalam usia enam belas tahun tiga bulan”.
Salah satu yang menunjukkan keberuntungannya, sebanyak lapan puluh ulama besar dari kalangan tabi’in sempat ia jumpai. Misalnya, ’Amr bin Dinas, az Zuhri, Muhammad bin al Munkadir, al A’masy, Sulaiman at Taimi, Humaid ath Thawil.
Tentang kekuatan hafalannya, ia berkata, ”Aku tidak pernah menulis sesuatu, kecuali sudah aku hafal sebelum aku menuliskannya.”
Berkat pergaulannya dengan ulama-ulama besar, telah membentuk dirinya menjadi peribadi yang teguh, luas ilmunya dan mendalam. Ia menjadi nara sumber dalam berbagai permasalahan dan tempat curahan isi hati.
Yahya bin Yahya an Naisaburi menceritakan: ”Suatu hari, ada seorang lelaki mendatangi Sufyan dengan berkata : ’Wahai , Abu Muhammad (yang dimaksud adalah Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan isteriku. Aku menjadi lelaki yang paling hina dan rendah dimatanya”.
Maka Sufyan menggeleng-gelengkan kepala hairan, dan kemudian berujar : ”Mungkin, keadaan itu muncul karena engkau menikahinya untuk meraih kehormatan?”
Lelaki itu pun mengakuinya: ”Ya, betul wahai Abu Muhammad”.
Sufyan lalu berpesan: ”Barang siapa pergi kerana mencari kehormatan, nescaya akan diuji dengan kehinaan. Barangsiapa mengerjakan sesuatu lantaran dorongan harta, nescaya akan diuji dengan kefakiran. Barang siapa bergerak kerana dorongan din(agama), nescaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama dinnya(agamanya)”.
Berikutnya, Sufyan mulai berkisah :
”Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah abang sulung., Imran anak bongsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, dia menginginkan kemuliaan nasab(keturunan). Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi status sosialnya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan.
Sedangkan Imran, (saat menikah) ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya dari dirinya. Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan. Keluarga wanita mengambil seluruh yang dimilikinya, tidak menyisakan sedikitpun.
Aku pun merenungkan nasib keduanya. Sampai akhirnya Ma’mar bin Rasyid datang menghampiriku. Aku pun berbincang dengannya. Aku ceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku. Ia mengingatkanku dengan hadits Yahya bin Ja’daj dan hadits ’Aisyah.
Hadits Yahya bin Ja’dah yang dimaksud, yaitu sabda Nabi Shollallahu ’alayhi wa sallam:
”Wanita dinikahi kerana empat perkara: kerana hartanya, status sosialnya(keturunan), kecantikannya dan dinnya(agamanya). Carilah wanita yang beragama, nescaya tanganmu akan beruntung”.
Sedangkan hadits ’Aisyah, Nabi Shollallahu ’alayhi wa Sallam bersabda :
Wanita yang paling besar berkahnya adalah wanita yang paling ringan beban pembiayaannya”
Maka, aku memutuskan untuk memilih bagi diriku (wanita yang) memiliki din(agama) dan beban yang ringan untuk mengikuti Sunnah Rasulullah Shollallahu ’alayhi wa sallam. Allah menghimpunkan bagiku kehormatan dan limpahan harta dengan sebab agamanya”.
Itulah salah satu hikmah yang muncul dari lisannya. Tidak sedikit untaian hikmah dari Sufyan yang mencerminkan kedekatannya dengan Al Khaliq, Allah Subhaanahu wa Ta’Ala.
Sufyan bin ’Uyainah pernah ditanya tentang hakikat wara’, Dia pun menjelaskan, wara’ adalah keinginan untuk mendalami ilmu din(agama) yang menjadi sarana untuk mengenal seluk-beluk wara’. Sebahagian orang menganggap sikap wara’ tercermin pada sikap diam dalam waktu yang lama dan sedikit bicara, padahal tidak demikian. Menurut kami, sesungguhnya orang yang berbicara lagi alim, itu lebih afdhal dan lebih wara’ dibandingkan lelaki yang jahil lagi diam.
Sufyan bin ’Uyainah juga memiliki hikmah yang menunjukkan kedalaman ilmunya. Dia menyatakan, permisalan ilmu adalah bagaikan negeri kufur atas negeri Islam. Apabila penganut Islam meninggalkan jihad, nescaya orang-orang kafir akan datang dan mengambil Islam. Jika orang-orang meninggalkan ilmu, maka mereka menjadi manusia-manusia bodoh.
Tentang pentingnya menyampaikan ilmu yang sudah diketahui, dia berkata : ”Tidaklah disebut (sebagai) alim orang yang mengetahui kebenaran dan keburukan. Tetapi, orang alim sejati ialah orang yang mengetahui kebaikan dan mengikutinya, serta mengetahui keburukan dan menjauhinya”.
Semoga Allah menganugerahinya dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di syurga-Nya yang tertinggi.
Sumber daripada : http://sahabatmu-semuanya.abatasa.com/post/detail/5216/sufyan-bin-%E2%80%98uyainah-rahimahullahkunikahi-dia-karena-agamanya
Mutiara Kata Islam : Menjaga Lisan Agar Selalu Berbicara Baik
Allah berfirman : “Ertinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, nescaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]
Dalam ayat lain disebutkan. “Ertinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, kerana sesungguhnya sebahagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu memfitnah sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]
Allah juga berfirman. “Ertinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]
Begitu juga firman Allah Ta’ala. “Ertinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]
Dalam kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan. “Ertinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah صلی الله عليه وسلم pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah(mengumpat) ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah(mengumpat) ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu bererti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, bererti kamu telah berdusta atas dirinya”
Allah Azza wa Jalla berfirman. “Ertinya : Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda. “Ertinya : Sesungguhnya Allah meredhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meredhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” (Diriwayatkan oleh Muslim hadits no. 1715. Hadits tentang tiga perkara yang dibenci ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Mughirah hadits no.2408 dan diriwayatkan juga oleh Muslim.)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahawa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda. “Ertinya : Setiap anak Adam telah mendapatkan bahagian zina yang tidak akan mampu dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau mengurungkannya” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6612 dan Muslim hadits no.2657. Lafaz di atas adalah yang terdapat dalam riwayat Muslim )
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar رضي الله عنه bahawa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda. “Ertinya : Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya” Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim no.64 dengan lafaz. “Ertinya : Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.
Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadits tersebut. Beliau berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu kerana lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang sedang terjadi sekarang dan juga yang akan terjadi saat mendatang. Berbeza dengan tangan. Pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan mampu juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh lisan”.
Oleh kerana itu, dalam sebuah sya’ir disebutkan : Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya Tanganku kan lenyap, namun tulisan tangannku kan abadi Bila tanganku menulis kebaikan, akan diganjaran setimpal Jika tanganku menulis keburukan, tinggal menunggu balasan.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahawa Rasulullah bersabda. “Ertinya : Barangsiapa dapat memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah kemaluan.
Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda. “Ertinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” Imam Nawawi memberi komen tentang hadits ini ketika menjelaskan hadits-hadits Arba’in. Beliau menjelaskan, “Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berfikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudarat, maka silakan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudarat atau ragu apakah membawa mudarat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara”.
Dalam ayat lain disebutkan. “Ertinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, kerana sesungguhnya sebahagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu memfitnah sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]
Allah juga berfirman. “Ertinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]
Begitu juga firman Allah Ta’ala. “Ertinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]
Dalam kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan. “Ertinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah صلی الله عليه وسلم pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah(mengumpat) ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah(mengumpat) ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu bererti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, bererti kamu telah berdusta atas dirinya”
Allah Azza wa Jalla berfirman. “Ertinya : Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda. “Ertinya : Sesungguhnya Allah meredhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meredhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” (Diriwayatkan oleh Muslim hadits no. 1715. Hadits tentang tiga perkara yang dibenci ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Mughirah hadits no.2408 dan diriwayatkan juga oleh Muslim.)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahawa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda. “Ertinya : Setiap anak Adam telah mendapatkan bahagian zina yang tidak akan mampu dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau mengurungkannya” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6612 dan Muslim hadits no.2657. Lafaz di atas adalah yang terdapat dalam riwayat Muslim )
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar رضي الله عنه bahawa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda. “Ertinya : Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya” Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim no.64 dengan lafaz. “Ertinya : Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.
Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadits tersebut. Beliau berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu kerana lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang sedang terjadi sekarang dan juga yang akan terjadi saat mendatang. Berbeza dengan tangan. Pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan mampu juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh lisan”.
Oleh kerana itu, dalam sebuah sya’ir disebutkan : Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya Tanganku kan lenyap, namun tulisan tangannku kan abadi Bila tanganku menulis kebaikan, akan diganjaran setimpal Jika tanganku menulis keburukan, tinggal menunggu balasan.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahawa Rasulullah bersabda. “Ertinya : Barangsiapa dapat memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah kemaluan.
Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda. “Ertinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” Imam Nawawi memberi komen tentang hadits ini ketika menjelaskan hadits-hadits Arba’in. Beliau menjelaskan, “Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berfikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudarat, maka silakan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudarat atau ragu apakah membawa mudarat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara”.
Sebahagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, nescaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara”. Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu kerana betapa banyak orang yang menyesal kerana bicara, dan sedikit yang menyesal kerana diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bahagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan fikirannya tidak mahu jalan”.
Beliau berkata pula di hal. 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyedari bahawa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal di kemudian hari kerana perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu kerana biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengawal perkataan-perkataannya.
Beliau menambahkan di hal. 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak mampu menjaga lidahnya bererti tidak faham terhadap agamanya”
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 (Tetapi lafaz hadits tersebut adalah yang terdapat dalam riwayat muslim) dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah bersabda. “Ertinya : Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak difikirkan apa kesan-kesannya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”
Masalah ini disebutkan pula di akhir hadits yang berisi wasiat Nabi kepada Muadz yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2616 yang sekaligus dia mengatakan sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda. “Ertinya : Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya ?” Perkataan Nabi di atas adalah sebagai jawapan atas pertanyaan Mu’adz. “Ertinya : Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan ?” Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan hadits ini dalam kitab Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam (II/147), “Yang dimaksud dengan buah lisannya adalah balasan dan siksaan dari perkataan-perkataannya yang haram. Sesungguhnya setiap orang yang hidup di dunia sedang menanam kebaikan atau keburukan dengan perkataan dan amal perbuatannya. Kemudian pada hari kiamat kelak dia akan menuai apa yang dia tanam. Barangsiapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapannya maupun perbuatan, maka dia akan menunai kemuliaan. Sebaliknya, barangsiapa yang menanam Sesuatu yang buruk dari ucapan mahupun perbuatan maka kelak akan menuai penyesalan”.
Beliau juga berkata dalam kitab yang sama (hal.146), “Hal ini menunjukkan bahawa menjaga lisan dan senantiasa mengawalnya merupakan pangkal segala kebaikan. Dan barangsiapa yang mampu menguasai lisannya maka sesungguhnya dia telah mampu menguasai, mengawal dan mengatur semua urusannya”. Kemudian pada hal. 149 beliau menukil perkataan Yunus bin Ubaid, “ Seseorang yang menganggap bahwa lisannya mampu membawa bencana sering saya dapati baik amalan-amalannya”. Diriwayatkan bahwa Yahya bin Abi Katsir pernah berkata, “Seseorang yang baik perkataannya dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya, dan orang yang buruk perkataannya pun dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya”.
Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda. “Ertinya : Tahukah kalian siapa orang yang bangkup(muflis) ? Para sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrup(muflis) adalah orang yang tidak memiliki wang dirham maupun harta benda. ‘Beliau membalas, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrup(muflis) di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.
Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang panjang dalam kitab Shahihnya no. 2564 dari Abu Hurairah, yang akhirnya berbunyi. “Ertinya : Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika sampai menghina saudaranya sesama muslim. Seorang muslim wajib menjaga darah, harta dan kehormatan orang muslim lainnya”
Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang panjang dalam kitab Shahihnya no. 2564 dari Abu Hurairah, yang akhirnya berbunyi. “Ertinya : Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika sampai menghina saudaranya sesama muslim. Seorang muslim wajib menjaga darah, harta dan kehormatan orang muslim lainnya”
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya hadits no. 1739 ; begitu juga Muslim (Tetapi lafaz yang tersebut terdapat dalam riwayat Bukhari) dari Ibnu Abbas bahawa Rasulullah pernah berkhutbah pada hari nahar(Idul Adha). Dalam khutbah tersebut beliau bertanya kepada manusia yang hadir waktu itu, “Hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari yang haram”. Beliau bertanya lagi, “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Negeri Haram”. Beliau bertanya lagi, “Bulan apakah ini ?” Mereka menjawab, “Bulan yang haram”. Selanjutnya beliau bersabda. “Ertinya : Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram bagi masing-masing kalian (merampasnya) sebagaimana haramnya ; hari, bulan dan negeri ini. Beliau mengulangi ucapan tersebut beberapa kali, lalu berkata, “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu)? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu) ?”
Ibnu Abbas memberi komen perkataan Nabi di atas, “Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya ini adalah wasiat beliau untuk umatnya. Beliau berpesan kepada kita, ‘Oleh kerana itu, hendaklah yang hadir memberitahukan kepada yang tidak hadir. Janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalanku nanti, yaitu kalian saling memenggal leher”.
Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2674 dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda. “Ertinya : Barangsiapa yang menyeru kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”
Ibnu Abbas memberi komen perkataan Nabi di atas, “Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya ini adalah wasiat beliau untuk umatnya. Beliau berpesan kepada kita, ‘Oleh kerana itu, hendaklah yang hadir memberitahukan kepada yang tidak hadir. Janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalanku nanti, yaitu kalian saling memenggal leher”.
Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2674 dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda. “Ertinya : Barangsiapa yang menyeru kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”
Al-Hafidz Al-Mundziri dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib (I/65) memberi komen mengenai hadits. “Ertinya : Apabila seorang manusia wafat, maka terputuslah jalan amal kecuali dari tiga perkara …dst” Beliau berkata, “Orang yang membukukan ilmu-ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan pahala dari perbuatannya sendiri dan pahala dari orang yang membaca, menulis dan mengamalkannya, berdasarkan hadits ini dan hadits yang semisalnya. Begitu pula, orang-orang yang menulis hal-hal yang membuahkan dosa, maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya sendiri dan dosa dari orang-orang yang membaca, menulis atau mengamalkannya, berdasarkan hadits. “Ertinya : Barangsiapa yang merintis perbuatan yang baik atau buruk, maka ….”
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6505 dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda. “Ertinya : Sesungguhnya Allah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka kuizinkan ia untuk diperangi”
[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]
Mutiara kata Islam : 30 Pesanan Imam Syafie Untuk Di jadikan Pegangan
Nama sebenarnya adalah Muhamad bin Idris bin Abbas bin Ulthman bin Shafie bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Mutalib bin Abdul Manaf. Ayahnya berasal daripada keturunan Quraisy dari Bani Mutalib. Ayahnya meninggal dunia ketika Iman Syafie masih kanak-kanak. Ibunya bernama Ummu Habibah al-Uzdiyyah berasal dari kabilah Yaman dari suku Uzd. Beliau dilahirkan di kota Gaza Palestin pada bulan Rejab tahun 150 hijran. Ada yang mengatakan pada malam beliau dilahirkan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) meninggal dunia. Khalifah Islam pada masa itu ada khalifah Abu Jaafar al-Mansur dari Bani Abbasiyah.
Imam Syafie dibesarkan dalam serba kekurangan. Sejak kecil lagi beliau sudah mempelajari Al-Quran. Beliau mula menghafal al-quran sejak berusia sembilan tahun. Berusia 10 tahun beliau menghafal dan memahami kitab al-Muwatta yang ditulis Imam Malik. Beliau mempunyai suara merdu, boleh bersyair dan bersajak. Ketika berusia 15 tahun, beliau mengajar dan memberi fatwa kepada orang ramai di Masjid al-Haram. Kerana kegigihan dan kecerdikan beliau yang luar biasa, beliau di sanjung masyarakat. Beliau meninggal di Mesir tahun 204 hijran ketika berumur 54 tahun.
Imam Syafie melarang taklid, baik taklid kepada dirinya sendiri ataupun kepada sesiapa sahaja. Semasa hidup, beliau selalu menasihatkan orang ramai terutama anak muridnya berkenaan taklid, "Janganlah mereka-reka dalam perkara-perkara agama mengguna pakai taklid sahaja kepada perkataan ataupun tindakan yang tidak disertai dengan keterangan ataupun alasan dari Al-quran dan hadis."
Pesan Imam Syafie, " Tiap-tiap perkara yang saya katakan padahal Rasulullah bertentangan kepada perkataan saya, Rasulullah itulah yang lebih utama perlu dituruti."
30 PESANAN IMAM SYAFIE
- Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin kerana ia dapat menjaga dan membuat kamu cemerlang di dunia dan akhirat.
- Perbanyakkan menyebut Allah daripada menyebut makhluk. Perbanyakkan menyebut akhirat daripada menyebut dunia.
- Pilihlah makanan yang halal kerana ia menjamin kesihatan dan menyebabkan syaitan gerun.
- Sabar menghadapi musibah adalah sebesar-besar erti sabar di mana sabar itu sendiri memerlukan kesabaran pula. Bala dan musibah menunjukkan adanya perhatian dan kasih sayang Allah. Oleh itu, bersyukurlah kerana syukur yang sedemikian setinggi-tinggi erti syukut.
- Apabila salah seorang antara kaum kerabat ataupun jiran dan saudara kamu sakit, kamu perlu ringankan langkah menziarahinya kerana ia disaksikan oleh malaikat dan dan dicintai Allah.
- Marah adalah salah satu antara panah-panah syaitan yang mengandungi racun. Oleh itu, hindarilah ia supaya dapat menewaskan syaitan dan bala tenteranya.
- Kasihanilah anak yatim kerana Rasulullah juga tergolong sebagai anak yatim dan beliau akan bersama-sama dengan orang yang menyayangi dan mengasihi anak-anak yatim di akhirat.
- Berbuat baik dan tunjukkan bakti kepada ibu bapa tanpa mengenali letihh dan lelah sebagaimana mereka berbuat begitu sepanjang hayat mereka. Ia dapat menambah keberkatan pada umur, menambah rezeki dan keampunan atas dosa-dosa kamu.
- Banyakkanlah amal soleh kerana ia adalah pendinding dan perisai orang mukmin dan pelindung kepada serangan iblis.
- Takwa adalah pakaian kebesaran dan hiasan akhlak Muslim sebenar. Ia ibarat pokok zaitun, minyaknya membawa berka, ia juga memberi kejayaan dan kemenangan.
- Iman mempunyai bentengnya bagi menghalang segala serangan yang cuba merobohkannya. Oleh itu bagi menguatkan benteng iman, keimanan perlu dibajai dengan lima perkara, yakin, ikhlas, mengerjakan amalan sunat, istiqamah, bertatasusila ataupu berdisiplin dalam mengerjakan ibadah.
- Ingat dan zikir kepada Allah sebanyak-banyaknya kerana ia mengubati penyakit jasmani dan hati. Ia mencetuskan ketenangan hidup dan qanaah.
- Khusyuk secara zahir adalah khusyuknya orang awam, khusyuk secara batin adalah khusyuknya orang pilihan di sisi Allah.
- Kubur adalah perhentian sementara bagi membolehkan ke satu perhentian lagi yang penuh dengan soal siasat. Oleh itu, siapkanlah jawapan yang adil dan benar menerusi amal yang benar dan taat kepada al-haq yang tidak berbelah bagi.
- Kita perlu sentiasa memohon perlindungan daripada Allah, sekurang-kurangnya dengan mengucapkan "A'uzubillahi minassaitathanirrajim". Kita perlu bersabar sekiranya serangan syaitan datang juga bertalu-talu dengan hebat dan menyedari Allah taala hendak menguji keteguhan sabar kita, hendak melihat ketulenan jihad kita. Ketahuilah perang dengan syaitan itu lebih hebat daripada perang sabil.
- Sebesar-besar keaiban (keburukan) adalah kamu mengira keburukan orang lain sedangkan keburukan itu terdapat dalam dirimu sendiri.
- Hati adalah raja dalam diri. Oleh itu,lurus dan betulkan ia supaya empayar kerajaan dirimu tegak di atas al-haq yang tidak disertai oleh iringan-iringan pasukan kebatilan.
- Ketahuilah istighfar yang diucapkan dengan betul mampu membuat syaitan lari ketakutan dan menggoncang empayar iblis di istana kerajaannya.
- Ketahuilah sebesar-besar kesenangan di duna dan akhirat adalah memberi maaf kepada orang lain dan melupakan terus kesalahannya. Allah pasti akan meninggikan darjatnya di sisi manusia.
- Tafakurlah sebelum tidur bagi menghisab diri atas salah dan silap semasa aktiviti pada siang hari sebagaimana Umar bin al-Khattab menyiasati dirinya dengan pelbagai soalan berkenaan dosa-dosanya pada siang hari.
- Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin kerana ia dapat menjagamu dan membuatmu cemerlang di dunia dan di akhirat. Ia juga amalan para nabi, rasul dan orang soleh.
- Sesiapa yang mahu meninggalkan dunia dengan selamat, dia perlu mengamalkan perkara berikut iaitu mengurangkan tidur, mengurangkan makan, mengurangkan bercakap dan berpada-pada dengan rezeki yang ada.
- Kamu seorang manusia yang dijadikan daripada tanah dan kamu juga akan disakiti (dihimpit) dengan tanah.
- Sesiapa yang menjalin ukhuwah dan menghidupkannya, dia memperoleh banyak kebaikan.
- Allah menjanjikan kepada orang yang beriman, mereka akan ditinggikan darjat dan diberi kemuliaan selagi mereka menunaikan perintah Allah.
- Allah menjanjikan kepada orang yang beriman, mereka pasti mendapat pertolongan Allah seperti dalam pernyataannya dalam surah ar-Rom ayat 47 yang bermaksud; dan adalah menjadi hak(tanggungjawab) kami untuk menolong orang yang beriman.
- Allah menjanjikan kepada orang yang beriman, mereka pasti mendapat pembelaan kepada Allah sebagaimana pernyataannya dalam surah al-Hajj ayat 38 yang bermaksud, Allah membela orang yang beriman.
- Allah menjanjikan kepada orang yang beriman dan bertakwa, Allah pasti menaikkan darjat mereka hingga ke taraf wali-wali Allah selagi memenuhi syarat-syaratnya seperti dalam pernyataannya dalam surah al-Baqarah ayat 257 yang bermaksud, Allah penolong (wali) bagi orang yang beriman.
- Allah menjanjikan kepada orang yang beriman akan memberi petunjuk dan jalan lurus sebagaimana pernyataan Allah dalam surah al-Hajj ayat 54 yang bermaksud " Allah akan memberi petunjuk bagi orang yang beriman kepada jalan yang lurus."
- Allah menjanjikan kepada orang yang beriman, mereka akan memperoleh rezeki yang baik dan pelbagai keberkatan selagi mereka menunaikan perintah Allah sebagaimana pernyataannya dalam surah al-A'raf ayat 96 yang bermaksud, sekiranya penduduk kota beriman dan bertakwa pasti kami akan melimpahkan mereka berkat dari langit dan bumi tetapi sekiranya mereka mendustakan ayat-ayat kami, kami akan seksa mereka disebabkan perbuatan mereka.
Dipetik daripada buku Imam Syafie - Pejuang Kebenaran karangan Abdul Latip Talib
Dapatkan buku Novel Sejarah Islam Secara Online Terbitan PTS







